Oleh : Anton Darmawan
Jangan Terjebak Rutinitas
24-01-2010
Pada masa Perjanjian Lama Tabut Allah melambangkan KEHADIRAN TUHAN. Bahkan setiap orang yang menjaga Tabut Allah, mereka adalah imam yang telah dikuduskan.
I Sam 7:1-2 menceritakan bahwa selama 20 tahun Tabut Allah ada di Kiryat-Yearim, Israel, tetapi kaum Israel malah mengeluh kepada Tuhan. Sementara itu dalam II Sam 6:11 menulis hanya 3 bulan lamanya Tabut Tuhan ada di rumah Ebod-Edom dan Tuhan memberkati Obed-Edom, seisi rumahnya dan segala yang ada padanya. Tabut Allah yang sama memberikan dua dampak yang berbeda. Apa yang membuat perbedaan?
Sewaktu Tabut Allah ada di rumah Obed-Edom, dia sangat menghormati Tabut Allah itu sama seperti dia menghormati Allah. Sedangkan Abinadab memperlakukan Tabut itu dengan biasa bahkan dia tidak tahu bagaimana cara memindahkan Tabut tersebut, bahwa Tabut Allah tidak boleh dipindahkan dengan menggunakan kereta, tapi harus dipikul oleh imam yang telah dikuduskan.
Jika kita melihat kisah dalam II Sam 6:1-10, sebenarnya Tabut Allah ada di rumah Obed-Edom dikarenakan Daud tidak ingin lagi membawanya ke kota Daud, karena dia melihat Uza mati pada waktu memegang Tabut Allah tersebut. Tetapi Obed-Edom tetap mau menerimanya, karena dia tahu bahwa Tabut itu melambangkan kehadiran Tuhan. Karena rasa penghormatan dia kepada Allah itulah maka Allah memberkatinya. Bahkan meskipun dia telah diberkati, tetapi pada waktu Tabut itu dipindahkan kedalam Bait Salomo, Obed-Edom tetap mengikutinya dan menjadi penjaga pintu gerbang sampai akhir hidupnya.
II Sam 2:30, Firman Tuhan menulis: “…siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati…” Nah, biarlah ini menjadi renungan untuk kita. Seringkali kita menghadap Tuhan dengan cara yang rutinitas: berdoa seperti biasa, membaca Firman Tuhan sebagai kewajiban, menyembah dengan tidak segenap hati, memberikan persembahan ala kadarnya, dsb.
Simson adalah seorang nazir Allah yang telah dipilih Allah menjadi penyelamat bangsa Israel dari tangan orang Filistin. Sejak lahir dia telah memiliki pengurapan Tuhan. Tetapi setelah tahun demi tahun berlalu, akhirnya dia tidak menjaga dirinya lagi sebagai seorang nazir Allah. Dia menghampiri wanita sundal bahkan menceritakan kelemahannya kepada Delila (wanita utusan orang Filistin). Hak 16:20 menceritakan bahwa Simson berpikir seperti biasanya, dia akan mengalahkan Filistin. Tetapi tidaklah dia ketahui bahwa Tuhan telah meninggalkan dia. Dan akhirnya yang terjadi pada Simson (atau kita yang terjebak rutinitas) dari Hak 16:21-25 :
-
Orang Filistin menangkap dia (kita mulai tertangkap tipu daya iblis)
-
Kedua matanya dicungkil (mata rohani kita menjadi buta, tidak lagi mengalami pengalaman hidup yang baru bersama Tuhan)
-
Membelenggu dia (kita mulai terikat/terbelenggu dosa)
-
Pekerjaannya hanya menggiling (hidup kita hanya berputar-putar pada masalah yang sama dan akhirnya mengalami kejenuhan)
-
Simson diminta melawak dihadapan orang Filistin (kita akan menjadi tertawaan orang lain seolah hidup kita tidak ada bedanya dengan orang yang belum percaya Tuhan)
Tetapi Hak 16:28 menceritakan tentang pertobatan Simson. Dia akhirnya berdoa dengan tidak seperti biasanya. Dan kasih karunia Allah turun akan dia. Sehingga orang yang dibunuh pada waktu kematiannya lebih banyak dibandingkan dia bunuh pada waktu hidupnya (ay30)
Maukah kita kembali lagi memperlakukan Tuhan sama seperti waktu kita dahulu pertama kali mengalami perjumpaan dengan Tuhan ???