Article

A SELFISH LIFESTYLE3

Tanpa kita sadari dunia di sekitar kita sudah berubah. Ya, perubahan adalah hal yang tak terelakkan. Demikian juga manusia yang ada di dalamnya tentu ikut berubah. Generasi baru telah bangkit dan ternyata tanpa disadari mereka memiliki budaya bahkan gaya hidup yang berbeda.

Menurut para ahli, pembagian generasi adalah sebagai berikut:

  • Traditionalist             1922 - 1943 (over 70)

  • Baby Boomers         1944 - 1964 (51 - 70)

  • Generation X             1965 - 1980 (35 - 50)

  • GenerationY            1981 - 1994 (21 - 34)

  • Generation Z           1995 - ? (Under 20)

Namun, dalam bukunya “Generation iY”, Tim Elmore mencoba membagi generasiY menjadi 2 bagian besar. Generasi Y yang terlahir di awal 80’an hingga tahun 1995, generasi iY yang terlahir dari tahun 1995 sampai awal 2000’an.


Generasi Y
Born in the 1980s

Generasi iY
Born in the 1990s

1

Highly compassionate (Perhatian kepada orang lain)

Low empathy (Tidak perduli)

2

Activist
(Ingin terlibat dalam segala sesuatu)

Slack-tivist (Want to be involved a little) (Enggan untuk ikut terlibat)

3

Technology is a tool (Teknologi adalah alat)

Technology is a appendage to my body (Teknologi menjadi bagian dari hidup)

4

Passionate about a cause (Peduli akan sebuah isu)

Fashionate about a cause (If my friends do it) (Peduli hanya untuk ikut-ikutan)

5

Civic minded
(Ingin membantu orang lain)

Self-absorbed
(Hanya perduli kepada diri sendiri)

6

Ambitious about the future
(Memiliki semangat tentang masa depan)

Ambiguous about the future (Bingung akan masa depan)

7

Accelerated growth (Pertumbuhan yang cepat)

Postponed maturation (Kedewasaan yang tertunda

Artinya anak-anak remaja yg sekarang berumur di bawah 20 tahun cenderung memiliki gaya hidup egois.

Bahkan firman Tuhan pun sudah menubuatkan seperti ini...

2Timotius 3:1-5 [FAYH]
SEBAIKNYA kauketahui juga, Timotius, bahwa pada masa-masa akhir orang Kristen akan menghadapi banyak kesukaran.
Sebab
orang hanya akan mencintai uang serta dirinya sendiri;
mereka
angkuh dan membanggakan diri....

Kenapa ini terjadi? Apa yang menyebabkan? Bagaimana melawannya?

Ada beberapa faktor yang mendorong hal ini; yang pertama adalah teknologi. Teknologi semakin menjadi bagian yang tak terpisahkan

dalam hidup manusia. Saat ini gadget adalah hal yang wajib kita miliki, terutama anak muda. Bahkan anak-anak kecil pun seolah terlahir dengan kemampuan alami untuk memahami gadget yang orang tua pun kadang masih bingung untuk mengoperasikannya.

Tetapi ada efek samping dari maraknya gadget di anak muda. Tanpa sadar anak-anak semakin didorong untuk sibuk dengan gadgetnya dan melupakan dunia di sekitarnya. Berapa banyak kita melihat kumpulan anak-anak berlarian di taman atau bermain permainan tradisional favorit generasi sebelumnya? Hampir tidak pernah kita lihat lagi.

Dengan kata lain, teknologi secara tidak sadar menarik anak-anak muda untuk semakin menyendiri dan mempersempit pandangan dunia sosial mereka. Akibatnya mereka “dilatih” untuk tidak memikirkan orang lain dan hanya memikirkan diri sendiri.

Faktor yang lain adalah konsumerisme. Manusia dibuat semakin mudah dalam berbelanja. Semakin beragam barang-barang yang bisa dimiliki. Iklan menjamur dimana- mana. Seolah-olah keinginan manusia untuk memiliki sesuatu semakin diperbesar.

1Yohanes 2:16 [FAYH]
Karena segala perkara dunia ini, keinginan- keinginan jahat ini--kegilaan seks,
keinginan membeli segala sesuatu yang menarik hati, dan kecongkakan yang datang dari kekayaan dan kebesaran--bukan berasal dari Allah, melainkan dari dunia yang jahat ini.

Tidak ada yang salah dengan berbelanja, tetapi yang salah adalah keinginan untuk memiliki lebih banyak untuk diri sendiri, itulah yang mendorong kita menjadi semakin egois.

Lalu, bagaimana cara melawannya? Gaya hidup hanya bisa dilawan dengan Gaya hidup.

Gaya hidup komunitas. Inilah jawabannya. Lihatlah gaya hidup jemaat mula-mula (Kisah Para Rasul 2:44-47; 4:32-35). Betapa indah jika kita bisa ada di dalamnya!

Gaya hidup komunitas – Interdepensi – Saling menggantungkan diri kepada satu sama lain membuat kita semakin sadar betapa kita membutuhkan orang lain. Mereka yang kuat menopang yang lemah. Di dalam komunitas pun kita memiliki banyak kesempatan untuk beinteraksi dengan orang lain, mengikis kesendirian (anti sosial) yang iblis coba kembangkan melalui gaya hidup egois.

Hal yang tak kalah penting, di dalam komunitas kita dilatih untuk memberi, melepaskan apa yg kita punya untuk orang lain. Melawan segala keinginan untuk mengumpulkan bagi diri sendiri. (*)

by: Dyan Cipta(Penilik Jemaat Next)